Friday, April 26, 2013

Hujan

Hujan tak ada habisnya turun. Membuat setiap makhluk enggan untuk keluar. Sedangkan, orang-orang yang berada di luar rumah harus berdiam ditempat teduh, menunggu hujan reda. Titik-titik air menghiasi jendela kelasku. Jam yang berdetak, suara Pak Ahmad yang sedang menjelaskan materi sejarah, atau biasa kusebut ceramah, yang tak kunjung usai, dan suara hujan menjadi musik. Musik yang aneh, setidaknya hanya pada saat tertentu.

Aku hanya duduk di bangkuku sambil bertopang dagu. Aku memperhatikan hujan yang menari-nari di luar sana, dan sesekali melihat ke Pak Ahmad. Membosankan. Jam baru menunjukan pukul setengah tiga. Aku masih harus mengikuti pelajaran setengah jam lagi. Setengah jam. Rasanya seperti setengah hari.

Aku ingin segera pulang, duduk di sofa bertemankan kopi hangat, selimut, dan tentunya juga novel. Tapi aku harus bersabar. Aku harus menunggu bel itu berbunyi. Suara yang membebaskanku dari kebosanan yang tidak berujung ini. Sayang, bel itu masih lama. Tampaknya aku masih harus terus bersabar.

Aku menatap hujan di luar. Belum reda. Tiba-tiba bel pulang sekolah berdentang. Aku rasa lebih cepat dari yang aku bayangkan, mungkin karena aku memperhatikan hujan. Bukan Pak Ahmad.

Kami berkemas-kemas lalu berdoa. Setelah selesai, kami keluar sambil menyalami Pak Ahmad. Diluar hujan masih saja lebat, sedangkan aku tidak membawa payung. Aku harus menunggu hujan reda baru bisa berjalan pulang. Rumahku hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah, jadi berjalan kaki saja cukup.

"Huh, mau sampai kapan nunggu kalau hujannya lebat banget gini?" Aku ngedumel pada diriku sendiri.

"Hey Ra, enggak bawa payung ya?" Sapa seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tinggi dariku. Denny. Dia sahabatku, sekaligus seseorang yang aku cintai.

"Eh, iya. Tadi ketinggalan. Gue nebeng ya, Den?" Ucapku sambil menunjukan deretan gigiku.

"Yaudah yuk, sekalian. Cepet, udah sore," Ia lalu menarik tanganku.

Kami berjalan beriringan, ditengah hujan yang lebat ini. Sedari tadi kami hanya diam membisu. Tak ada yang membuka percakapan. Hanya suara hujan dan kendaraan lalu lalang yang menabrak gendang telinga kami. Aku tak berani mengajaknya berbicara lebih dulu, ia nampaknya sedang memikirkan sesuatu.

"Ra," Ia membuka pembicaraan.

"Hm..." Aku menjawabnya singkat.

"Gue pengen ngomong sesuatu sama lo," Terdengar suaranya mencurigakan. Aku rasa itu sesuatu yang penting.

"Apa? Bilang aja kali. Gue kan sahabat lo," Jawabku sambil menyunggingkan senyuman, senyum terpaksa. Getir, aku hanya menelan ludah setelah mengucapkan itu. Sahabat. Padahal sebenarnya aku mencintai dia.

"Lo selama ini cuma anggep gue sahabat lo?" Tanyanya membuatku kaget setengah mati.

"I..ya," Jawabku dengan terbata. Kembali aku menelam ludah. Kali ini pahit, pahit karena aku harus berbohong tentang perasaan ini. Aku sudah membohongi diriku sendiri dan juga dirinya.

"Oh," Jawabnya pendek. Mukanya berubah menjadi lesu. Matanya menyorotkan kekecewaan. Mengapa dia sebenarnya?

"Emang kenapa?" Aku bertanya untuk mengurangi rasa penasaranku.

"Gapapa kok," Jawabnya sambil menyunggingkan senyum yang sepertinya dipaksakan. Rasa penasaran semakin membuncah dalam benakku.

Itu ucapan terakhir darinya. Aku tak melanjutkan pembicaraan, meskipun aku masih penasaran. Kami hanya berjalan bersama tanpa sebuah pembicaraan. Aku sibuk dengan jalanan, sedangkan dia sibuk seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Mungkinkan ia sebenarnya memiliki rasa yang sama dengan aku? Sebaiknya aku buang saja harapan itu sebelum akhirnya aku sakit karena harapan itu.

Tak terasa sudah sampai di depan rumahku. Kami berhenti.

"Thanks, Den. Udah nebengin gue," Ucapku sambil menyunggingkan senyum.

"Kembali, Ra," Ucapnya. Setelah itu, aku masuk sedangkan ia melanjutkan berjalan ke rumahnya yang kurang lebih berjarak 500 meter dari rumahku.

Sudah seminggu sejak kejadian hujan itu. Ia terlihat aneh. Ia seperti menghindariku. Saat bertemu, ia hanya tersenyum dan memanggilku. Tak lebih. Ia tak mengajakku makan bersamanya di kantin atau hanya sekedar bercanda. Dia berubah. Sakit, ketika seseorang yang aku sayang justru menjauhiku.

Sore ini hujan lagi. Menyebalkan. Hujan seenaknya saja menari dan bermain musik. Kali ini aku membawa payung. Syukurlah. Ketika mataku mengerling, di seberang sana tampak sosoknya. Tinggi, berambut cepak, dan menggendong ransel hitam. Aku segera saja menghampirinya.

"Den, enggak bawa payung ya?" Aku berbicara setengah berteriak saking derasnya hujan.

"Iya, gue lupa," Jawabnya juga setengah berteriak.

"Yuk, bareng gue aja. Gantian, kan kemarin gue juga nebeng lo," Ucapku sambil menyunggingkan senyum.

Payungku diraihnya. Kami berjalan beriringan.

"Denny," Aku memanggilnya.

"Iya, Ara?" Ia menoleh ke aku.

"Lo kenapa sih akhir-akhir ini ngehindari gue?" Aku tanya langsung ke titik permasalahan tanpa basa basi.

"Menurut lo?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sikapnya tiba-tiba menjadi dingin. Tubuhnya menjadi lebih tegap, seperti siap untuk berperang.

"Gue kehilangan lo, Denny! Gue enggak betah lo hindari terus gini! Gue gak betah di cuekin sama sahabat gue sendiri!" Aku mengucapkan itu setengah berteriak.Air mataku ikut keluar bersama ucapan-ucapan tadi.

"Ara, lo selama ini sadar gak?" Tanyanya sambil menghapus air mataku. Payungku ia jatuhkan. Air hujan membasahi seragam sekolah kami. "Lo selama ini sadar gak gue sayang sama lo?" Perkataannya itu membuat jantungku berdetak semakin kencang, tak beraturan. Sesuatu yang selama ini aku bayangkan. Dia memiliki rasa yang sama denganku.

"Dan lo sadar gue juga sayang sama lo?" Tanyaku kembali, air mata juga menyertainya.

"Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Apa lo gak peka sama perhatian yang selama ini gue kasih?" Kedua tangannya berada di bahuku. Ia sedikit mencengkeramnya.

"Nah, selama ini lo peka sama gue?" Jawabku. Mataku menatap matanya lekat. Di matanya tidak ada kebohongan. Tulus, itu yang aku temukan.

"Jadi, perkataan lo minggu lalu itu bohong kan?" Ia seperti memburuku. Menginterogasiku. Mencecarku dengan berbagai pertanyaan.

"Iya. Gue bohong. Gue enggak mau ngerusak persahabatan kita," Jawabku. Air hujan dan air mata di wajahku menyatu.

"Lo salah, sebenernya kemaren gue pengen bilang semua ini," Ucapnya masih mencengkeram bahuku. "Oke, gausah pikirin yang kemarin. Yang lalu biarlah berlalu," Sambungnya.

Ia menarik nafas. "Ara, lo mau jadi pacar gue?" Sesuatu yang selama ini tak pernah kuduga. Sesuatu yang aku pikir hanya mimpiku. Ini kenyataan. Ini bukan mimpiku.

"Gausah lo tanya, Den. Gue mau. Mau jadi pacar sekaligus sahabat lo," Air mataku berhenti mengalir. Sekarang, senyum ini menggantikan tangisku. Aku harap, aku bisa lebih banyak tersenyum setelah dengannya, Denny, sahabatku.

By :
@refaans :))

Thursday, April 25, 2013

Cerita Kita

Aku masih ingat jelas ketika aku baru mengenalmu. Aku hanya mengenalmu lewat dunia maya, walaupun dalam wujud nyata aku bertemu denganmu setiap hari. Begitu berbeda sosokmu di dunia maya dan dunia nyata. Di dunia maya, kamu terkesan cerewet dan banyak tingkah. Di dunia nyata, kamu terkesan pendiam. Haha, sungguh, keduanya begitu bertolak belakang.

Perlahan-lahan aku mulai menyukaimu. Aku mulai menyayangimu. Kamu belum menyadari. Muncul harapan kamu juga mempunyai rasa yang sama. Tapi, harapanku pupus, ketika aku tahu kamu menyayangi orang lain. Bukan aku.

Kamu belum juga mengetahui rasa ini. Kamu belum berubah. Kamu tetap seperti dulu. Aku suka itu, kamu yang pendiam terlihat begitu cerewet ketika di dunia maya. Aku hanya beberapa kali mengobrol denganmu, suaramu masih terus terngiang ditelingaku. Senyumanmu juga masih melekat erat pada ingatanku.

Masih tergambar jelas, ketika kamu menyapaku. Lalu, kamu mengajakku mengobrol sepatah dua patah kata. Perbincangan yangg singkat, tapi itu kenangan indah untukku. Ah, seandainya waktu bisa diputar balikkan, aku akan terus mengulang saat-saat itu.

Waktu terus berlalu. Kamu mulai berubah. Yah, mungkin memang semuanya harus berubah. Kamu yang sekarang bukan yang aku kenal dulu. Kamu mulai menjauhiku. Mungkin kamu menyadari perasaanku ini. Semua berbeda dari yang aku harapkan. Aku berharap kamu bisa mengerti, tapi kamu malah semakin menjauhiku. Itu bukan membuatku bisa melupakanmu, tapi kamu menyakitiku.

Itu semua belum apa-apa. Jauh lebih sakit ketika aku tahu kamu menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Hatiku rasanya remuk. Tapi, sekali lagi aku menyayangimu. Bagaimanapun juga asal kau bahagia, aku ikut bahagia. Munafik kedengarannya. Dan itu memang benar. Aku bohong mengenai itu. Aku terus bertahan dalam sandiwara. Aku pura-pura merelakannya. Aku pura-pura tersenyum di depan orang-orang 

Kapan sandiwara ini akan berakhir? Kapan aku tidak harus pura-pura tersenyum lagi di depan orang-orang? Mereka tak tahu yag sesungguhnya aku rasakan. Mereka hanya tahu, aku yang tegar dan selalu tersenyum. Bukan aku yang rapuh, seperti kenyataannya. Aku ingin menyudahi semuanya. Aku ingin menghentikan sandiwara ini. Aku ingin semua kembali seperti dulu. Ketika semua baik-baik saja. Aku ingin kamu yang dulu, ketika kamu masih merasa mengenalku. Saat kamu selalu bisa kuajak bicara meluapkan perasaanku.

Refaans :))

Pengagum Rahasia

Pengagum rahasia. Itu posisi yang sulit. Dimana aku menyayangimu tapi kamu tak pernah mengetahui itu, dan aku tak punya keberanian  mengungkapkannya. Hah, jelas saja kau tak mengetahuinya. Menjadi pengagum rahasia hanya mampu memperhatikanmu dari jauh, menikmati senyumanmu yang indah itu dari kejauhan, tanpa bisa menjadi penyebabnya.

Menjadi seorang pengagum rahasia rasanya untuk cemburu saja aku tidak berhak. Aku hanya mamp menahan rasa sesak ketika melihatmu dengan kekasihmu. Dan lagi, aku bisa apa? Hanya menangis diam-diam, menahan rasa sesak di dada. Tapi, setidaknya aku bisa melihat senyummu itu.

Pengagum rahasia, ini jauh lebih baik daripada harus menjadi orang ketiga. Setidaknya aku tidak merusak hubunganmu dengannya, meski aku begitu menyayangimu. Ya walau sakit ketika aku melihat kamu bersama dengan kekasihmu, dan sekali lagi itu tak apa, asal tetap terlukis senyumanmu. Demi senyum itu, hatiku rasanya sudah mati rasa. Senyum itu bagai penawar rasa sesak tadi.

Aku juga manusia biasa, aku juga punya keinginan. Aku juga ingin seperti dia, aku iri dengannya. Aku ingin bisa disampingmu dan menggenggam erat tanganmu. Bukan hanya memandangmu dari kejauhan seperti ini. Aku ingin menjadi salah satu sebab senyumanmu itu, bukan hanya menikmatinya dari kejauhan. Aku ingin memiliki senyum itu, walau hanya sementara. 

Hah, aku sudah lelah mengagumimu tanpa kau sadari. Tapi sekali lagi, aku bisa apa? Mengungkapkan saja rasanya tak ada keberanian. Dan lagi, permasalahannya pada keberanian. Aku sangat ingin kau membalas rasa ini, tapi aku tak berani mengungkapkan ini semua. Aku hanya mampu berharap, kamu akan mengerti semua ini suatu saat.

Aku pikir lebih baik begini. Aku tetap menjadi seorang penggemar  rahasia, dan kamu tetap bahagia bersama kekasihmu. Aku tetap bisa melihat senyummu dan kamu bahagia bersama kekasihmu. Simbiosis mutualisme. Aku yakin, kamu pasti bahagia dengannya. Kebahagiaanmu menjadi bagian dalam setiap doa yang kupanjatkan.

Refaans :))