Ah, gagal lagi. Ai menghembus nafas panjang. Sedari tadi ia hanya memasukkan bola ke ring beberapa kali dari sekian kali ia mencoba.
Baru saja Ai gagal memasukkan bola ke ring, lagi-lagi ada anggota tim yang lain berhasil memasukkan bola ke ring. Semakin kalut perasaan Ai. Ia terus mencoba dan mencoba, tapi hanya begitu saja.
"Ayo Ai, kamu pasti bisa," Friska berdiri di samping Ai dengan senyum manisnya, lalu ia langsung melemparkan bola yang ada di tangannya. "Jangan menyerah kalau kamu udah usaha keras tapi gagal. Usaha keras itu tak akan menghianati. Mungkin usahamu saja yang kurang keras. Kegagalan adalah perjalanan menuju kesuksesan, Ai," Ucap Friska kembali dengan senyum manis merekah di bibirnya, lalu ia meninggalkan Ai sendiri.
"Thanks," Ucap Ai ke Friska yang kembali memberi semangat kepadanya. Andai semua anggota tim sebaik Friska. Baru saja Ai membatin, tiba-tiba Rena, kapten tim basketnya, menghampirinya.
"Ai, lebih baik kamu pulang. Daritadi keberhasilanmu shooting hanya sekitar satu banding sepuluh," Rena berucap ke Ai tanpa perasaan tak enak sedikitpun.
Friska yang tak sengaja ucapan Rena langsung menegurnya. "Rena..."
"Udah, gapapa kok. Aku pulang aja ya. Toh disini aku cuma mengganggu," Ai tersenyum kecut. Hatinya dipenuhi kekecewaan.
Dengan langkah gontai Ai berjalan ke pinggir lapangan menuju tempat ia meletakkan tasnya. Ia duduk di sana sambil menatap kecewa ke arah lapangan. Seandainya mereka mau memberiku kesempatan. Ai hanya tersenyum getir.
"Ai..." Friska tiba-tiba menghampiri Ai yang perasaannya masih kalut karena ucapan Rena tadi. Anggota tim yang lain tak perduli, tetap berlatih seakan tidak terjadi apapun. "Kamu gapapa? Omongan Rena jangan dimasukkin ke hati," Friska menyentuh bahu Ai.
Ai hanya tersenyum. "Gak kok, kalo aku masukkin hati udah nangis kali," Ai berusaha menyembunyikan wajah kecewanya. Walaupun tak ia masukkan ke hati, ucapan itu tentu saja membuat dadanya cukup sesak.
"Jangan menyerah, kamu harus berjuang lebih keras lagi ya," Seulas senyum mengembang di bibir Friska.
"Iya," Ai segera berdiri dan diikuti Friska. Tas Ai sudah ada di pundaknya. "Sudah ya, aku mau pulang," Ai bersiap meninggalkan Friska.
"Iya, hati-hati di jalan. Sekali lagi, kamu jangan masukkin omongan Rena ke hati ya," Ucap Friska.
"Iya, aku pulang ya. Tolong pamitin sama Rena dan lainnya, gak enak ganggu mereka latihan," Ai segera pergi meninggalkan Friska. Friska melambaikan tangan ke arahnya. Ia hanya tersenyum ke Friska.
Setelah kepergian Ai, Friska kembali ikut bermain bersama anggota tim yang lain. Rena tak perduli sama sekali dengan Ai. Ia hanya tetap sibuk berlatih. Mungkin pada dasarnya Rena tidak memperbolehkanku masuk tim. Pikir Ai ketika menengok mendapati Rena biasa-biasa saja. Ai mendengus nafas panjang dan meneruskan langkahnya menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda.
Ai mengayuh sepedanya perlahan sambil menikmati angin sepoi sore hari. Matahari masih bersinar, tapi ia sudah ada di barat. Ia berusaha menghibur diri, mencoba melupakan apa yang terjadi tadi. Meskipun ia kecewa berat, ia berusaha untuk tidak menangis. Berusaha mengembangkan senyum selebar mungkin.
Ai terus mengayuh sepedanya perlahan tapi terus berjalan, hingga ia berhenti karena matanya mendapati anak-anak kecil sedang bermainbersama di lapangan. Mungkin mereka bermain soft ball, lebih baik aku melihatnya. Siapa tahu bisa mengobati perasaanku. Tanpa pikir panjang Ai segera memarkirkan sepeda dan melihat pertandingan soft ball. Ternyata di sana juga ada banyak orang, mungkin mereka berusaha menghibur diri.
"Ayo, ayo, ayo," Para penonton menyemangati tim jagoan mereka masing-masing. Terkadang mereka juga sahut-sahutan.
Menyenangkan bisa melihat keceriaan anak-anak yang polos itu. Seakan tak ada beban yang mereka pikul, walaupun mungkin mereka akan dimarahi karena mereka terlalu asyik bermain dan lupa waktu. Seandainya aku bisa mengulang masa-masa itu. Ai hanya ikut menonton, dan sesekali berteriak karena gemas.
Saat sedang seru menonton pertandingan, tiba-tiba mata Ai menangkap seorang gadis kecil duduk sendiri. Mungkin dia di jauhi temannya. Rasanya tak apa kalau aku dekati ia dan mengajaknya ngobrol. Ai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju gadis kecil itu.
"Hai..." Ai menyapa gadis kecil itu. "Teman-temanmu kemana? Kok sendirian?" Ai mencoba melihat wajah gadis itu yang tak berpaling dari lapangan. Ternyata ia menangis. Wajahnya berurai air mata. "Loh, kamu kenapa nangis?"
Anak itu hanya menggeleng dan diam. wajahnya seperti menyiratkan kekecewaan.
"Gara-gara kakak ya? Kakak pergi deh kalau kamu ngerasa keganggu," Ucap Ai hati-hati, takut kalauu-kalau anak kecil itu menangis karena ia dekati. Gawat, kalau ia menangis gara-gara aku, bisa-bisa ibunya mengejarku sambil membawa panci. Ai membayangkan hal itu.
"Bukan kok, bukan karena kakak," Anak itu menoleh ke Ai.
"Terus, kenapa kamu menangis? Jangan nangis dong, kamu kan kalau gak nangis cantik," Ai tersenyum. Ia lalu menyeka air mata anak itu. Ia juga membetulkan poni anak itu yang sepertinya mengganggu wajah anak itu.
"Mereka tak memperbolehkan aku ikut main. Katanya aku hanya menganggu," Anak itu sepertinya akan menangis lagi, tapi ketika melihat senyum di wajah Ai, ia tak jadi menangis.
"Sayang, kamu gak boleh nangis cuma gara-gara hal begitu. Kalau mereka bilang kamu hanya mengganggu, kamu buktikan kamu bisa jadi lebih baik dari mereka," Ai mengelus rambut anak perempuan itu. "Usaha keras itu tak akan menghianati," Ai kembali mengembangkan senyumnya.
"Iya, kak," Anak perempuan itu tersenyum lebar sekarang.
"Kalau menangis, hanya menunjukkan betapa lemahnya kamu. Menangis boleh, tapi jangan setiap masalah kamu menangis walaupun melegakan," Ai mengelus rambut panjang anak perempuan itu. "Oh iya, nama kamu siapa? Lucu ya, kita udah ngobrol banyak tapi gak saling kenal," Ai tertawa kecil lalu mengulurkan tangannya mengajak anak perempuan itu berkenalan.
"Namaku Arumi, Kak," Arumi menyalami tangan Ai yang terulur.
"Nama kakak, Ai. Panggil Kak Ai saja ya," Ai mengacak rambut Arumi. "Oh, sudah sore, kakak pulang dulu ya. Jangan lupa sama kata-kata kakak tadi," Ai segera bangkit.
"Iya, kak," Ucap Arumi lalu Ai segera meninggalkan lapangan itu dengan penuh senyum.
Langit sudah mulai berwarna jingga. Burung-burung segera kembali ke sarangnya. Dengan senyum yang merekah, Ai pulang ke rumah. Ia kembali mengingat kata-kata penyemangat yang ia keluarkan tadi. Seharusnya aku mengatakan itu juga pada diri sendiri.
Ai masih teringat wajah manis Arumi tadi. Semangat Arumi membuat Ai sadar. Semangat Arumi juga membuat semangat Ai tersulut kembali. Ayo, Ai, anggap saja hal itu biasa, kritikan dari Rena. Tak ada orang yang sempurna di dunia. Senyum tak henti-hentinya merekah di bibir Ai. Mungkin orang yang melihatnya akan menyangka ia gila karena terus tersenyum. Tapi, Ai tak perduli. Sekarang ia mendapat semangat baru. Tentu saja ia sangat senang.
Beberapa hari kemudian, Ai memutuskan menonton soft ball di lapangan itu. Ia mencari-cari Arumi. Danbetapa terkejutnya Ai, Arumi ikut bermain. Ia tampak mendapat giliran memukul. Dengan harap-harap cemas Ai memperhatikannya. Dan Arumi bisa memukul bola yang dilempar pitcher. Ia lalu segera mengitari home base. Berhasil, Arumi berhasil mencetak satu angka.
Arumi tersenyum ke arah Ai, begitu mengetahui disitu ada Ai. Ia mengacungkan jempol mungilnya. Kamu hebat Arumi. Bisakah aku sehebat dia? Senyum kembali terukir di bibir Ai.
Tuesday, December 10, 2013
Friday, September 13, 2013
Lagu Kematian (Writing Challenge: Death Scene)
Jari-jariku menari dengan gemulainya di atas tuts hitam putih piano. Malam semakin larut, mungkin tak apa jika aku bermain piano malam begini. Lagipula, lingkungan rumahku sepi. Disini hanya tinggal aku dan kakak perempuanku, yang rasanya tidak pernah perduli denganku, sejak kedua orang tuaku meninggal pada kecelakaan mobil waktu itu. Sikapnya dingin sekali terhadapku. Ia menganggap aku yang membunuh mereka, alasannya hanya satu, ayah dan ibu kecelakaan ketika mereka dalam perjalanan untuk menontonku di suatu kontes musik.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tajam, panjang, dan pipih menusuk punggungku. Itu pisau. Cairan hangat mengalir dengan perlahan, itu darahku. Masih segar. Baju biru mudaku sudah menjadi merah di bagian belakang. Jari-jariku mendadak diam. Tubuhku rasanya lemas. Aku lalu merasakan seseorang memegang kedua pundakku. Kepalanya ada di sebelah kepalaku. Nafasnya terasa di telingaku.
Angin malam ini rasanya dingin sekali. Gemerisik pepohonan di luar membuat malam ini terasa semakin mencekam. Apalagi daerah rumah kami bukanlah komplek perumahan ramai, apalagi elit, meskipun rumah kami di bilang mewah.
Aku tetap saja fokus pada jari-jariku yang menari dengan gemulainya di atas tuts menghasilkan sebuah nada merdu, lagu yang mengingatkanku pada kedua orang tuaku. Karena lagu indah ini, aku gunakan untuk kontes itu. Kontes yang membuat kedua orang tuaku tewas dalam perjalanan menontonnya, kontes yang membuat kakak perempuanku sendiri membenciku. Aku tetap fokus, dan tak mendengar decitan pintu terbuka.
"Mati kamu! Seharusnya sudah dari dulu! Sudah dari dulu aku melakukan ini. Membunuhmu! Karena kamu melakukan hal yang sama kepada ayah dan ibu!" Suara dingin kakak perempuanku berbisik di telingaku. Punggungku rasanya tak karuan. Tubuhku sudah lemas. Darah terus mengucur dengan derasnya. Aku tak pernah berfikir ini akan terjadi. Kakakku sendiri, akan menghujamkan sebuah pisau ke punggungku, adiknya sendiri. Sungguh tak habis pikir, sebenci itukah ia denganku?
"Kakak, aku...minta...maaf. Hhh...karena...aku...sudah...tak...sengaja...membunuh...mereka." Dengan sisa kekuatan yang ada, aku mengatakannya. Hanya seperti bisikan. Mungkin karena aku terlalu lemah. Bernafas saja tersenggal-senggal, apalagi untuk.mengatakannya. Tapi aku harus, atau kakak tak akan pernah memaafkanku meski aku sudah tidak ada.
Tak berapa lama, aku merasakan sesuatu yang hangat menetes di leherku. Air mata kakakku. Ia menangis? Karena apa? Menyesal? Atau bahagia karena berhasil membunuhku?
"Maafkan kakak. Kakak benci lagu itu! Karena lagu itu ayah ibu meninggal! Mari kita akhiri semua ini. Kakak sudah tak kuat lagi, menahan semua beban batin ini! Sakit, apalagi melihat mereka jauh menyayangimu. Maaf, kakak tak bisa mengendalikan emosi.kakak." Kakak terus saja menangis. Air matanya begitu deras. Seperti darah dari punggungku.
Aku hanya menyunggingkan senyum manisku ke kakak. Senyum terakhir kakak. Aku harap ia akan terus mengenangku. Kekuatanku sudah habis. Aku merasakan pisau yang tadi menghujamku dicabut kakak.
Sebelum mataku menutup, kakak melepaskan tubuhku yang di topangnya. Aku jatuh terjengkang ke belakang. Dan detik terakhir, samar-samar aku melihat kakak menusuk pisau itu, di dadanya. Apakah ia menyesal membunuhku? Aku sudah tak kuat lagi, tak kuat untuk mendengarkan kakak. Dan aku mendengar bisikan terakhir kakak, "Kakak sayang kamu, Elena..."
Lagu itu membunuh lagi. Aku dan kakakku.
Thursday, September 12, 2013
Pernahkah Aku Ada di Hatimu?
Kamu. Ya. Yang menempati sebagian besar ruang di hatiku. Bahkan juga di otakku. Seseorang yang mapu mengacaukan banyak hal. Seseorang yang menarik seluruh fokusku. Rasanya sulit, menghapusmu dari otakku. Tak segampang aku mengucapkannya, tak segampang tombol menekan"Unfollow" di twitter, tak segampang menekan "Delete" dari kontak.
Ada satu tanya, yang terus saja menghantuiku. Dan aku selalu berusaha mencari jawaban itu, tapi NIHIL. Apa itu? What's that? Yah, "Pernahkah ada aku di hatimu?". Sebenarnya mungkin. Tapi apakah itu selalu? Apakah ada sebuah ruang khusus? Tanya itu bukannya terjawab, tapi semakin banyak, semakin panjang. Tak ada habisnya tanya-tanya itu.
Mungkin aku pernah ada di hatimu. Mungkin aku juga pernah ada di otakmu. Ya, tapi hanya sesaat. Dan aku tak mempunyai sebuah ruang khusus, yang selalu diistimewakan. Aku hanya seperti angin lalu yang hanya akan datang sesaat dan pergi lagi.
Tapi tahukah kamu? Aku memberimu ruang khusus. Di hati dan di otak. Kamu termasuk orang istimewa di hidupku. Yang bahkan menjadi bagian hidupku, walaupun aku tahu posisiku di hidupmu. TAK BEGITU BERARTI, peranku seperti angin lalu.
Kenyataan yang pahit. Tapi apakah hanya karena seperti ini aku berhenti mengharapkannya? Apakah aku akan semudah itu berputus asa? Tidak, aku tetap bertahan. dan aku pikir itu belum ada apa-apanya. Itu masuk dalam daftar resiko serang secret admirer, iya, itu aku. Seseorang yang mengharapkanmu, tapi hanya menyimpannya rapat-rapat, mengamatimu dari jauh, dan diam-diam mengikuti banyak kegiatanmu.
Ya, itu memang bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan yang ini. Ketika aku mengetahui kamu menjalin HUBUNGAN SPESIAL dengan seseorang. Nafasku sesak, perutku berputar, dan mataku panas. Rasanya pelupuk mataku sudah tak kuat menahan air mata. Dan karena ini, bantal tidurku basah. Mataku bengkak esok harinya. Tapi aku harus rela ini semua terjadi. Lagipula, apa hakku untuk melarang? Siapa aku dimatanya? Tak ada apa-apanya. Cemburu saja rasanya tidak berhak. Lagi-lagi, resiko serang secret admirer.
Kalau dipikir, itu memang bodoh. Menangisi seseorang yang bahkan tak menganggapku berarti. Tapi, apakah cinta itu rasional? Tidak. Banyak hal bodoh yang orang lakukan karena cinta. Ya, KARENA CINTA. Banyak, sangat banyak hal bodoh itu.
Aku bosan. Aku bosan hanya menunggumu dalam diam. Aku bosan hanya mengamatimu dari jauh. Aku bosan hanya menikmati senyum indahmu dari jauh, tanpa pernah bisa memiliki senyum itu walau sementara. Aku ingin menjadi alasan di balik tawamu. Aku ingin berdiri di sampingmu, dan bisa menatap kedua matamu. Aku bosan semua itu hanya khayalan. Aku ingin SEMUA ITU NYATA. Lagi-lagi itu hanya sebuah harapan kosong, dan tak berarti.
Aku hanya bisa melakukan yang sekarang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menunggu semampuku. Aku hanya bisa menangis sebanyak air mataku. Aku hanya bisa itu semua. I'm not perfect, because nobody perfect in this world.
Ada satu tanya, yang terus saja menghantuiku. Dan aku selalu berusaha mencari jawaban itu, tapi NIHIL. Apa itu? What's that? Yah, "Pernahkah ada aku di hatimu?". Sebenarnya mungkin. Tapi apakah itu selalu? Apakah ada sebuah ruang khusus? Tanya itu bukannya terjawab, tapi semakin banyak, semakin panjang. Tak ada habisnya tanya-tanya itu.
Mungkin aku pernah ada di hatimu. Mungkin aku juga pernah ada di otakmu. Ya, tapi hanya sesaat. Dan aku tak mempunyai sebuah ruang khusus, yang selalu diistimewakan. Aku hanya seperti angin lalu yang hanya akan datang sesaat dan pergi lagi.
Tapi tahukah kamu? Aku memberimu ruang khusus. Di hati dan di otak. Kamu termasuk orang istimewa di hidupku. Yang bahkan menjadi bagian hidupku, walaupun aku tahu posisiku di hidupmu. TAK BEGITU BERARTI, peranku seperti angin lalu.
Kenyataan yang pahit. Tapi apakah hanya karena seperti ini aku berhenti mengharapkannya? Apakah aku akan semudah itu berputus asa? Tidak, aku tetap bertahan. dan aku pikir itu belum ada apa-apanya. Itu masuk dalam daftar resiko serang secret admirer, iya, itu aku. Seseorang yang mengharapkanmu, tapi hanya menyimpannya rapat-rapat, mengamatimu dari jauh, dan diam-diam mengikuti banyak kegiatanmu.
Ya, itu memang bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan yang ini. Ketika aku mengetahui kamu menjalin HUBUNGAN SPESIAL dengan seseorang. Nafasku sesak, perutku berputar, dan mataku panas. Rasanya pelupuk mataku sudah tak kuat menahan air mata. Dan karena ini, bantal tidurku basah. Mataku bengkak esok harinya. Tapi aku harus rela ini semua terjadi. Lagipula, apa hakku untuk melarang? Siapa aku dimatanya? Tak ada apa-apanya. Cemburu saja rasanya tidak berhak. Lagi-lagi, resiko serang secret admirer.
Kalau dipikir, itu memang bodoh. Menangisi seseorang yang bahkan tak menganggapku berarti. Tapi, apakah cinta itu rasional? Tidak. Banyak hal bodoh yang orang lakukan karena cinta. Ya, KARENA CINTA. Banyak, sangat banyak hal bodoh itu.
Aku bosan. Aku bosan hanya menunggumu dalam diam. Aku bosan hanya mengamatimu dari jauh. Aku bosan hanya menikmati senyum indahmu dari jauh, tanpa pernah bisa memiliki senyum itu walau sementara. Aku ingin menjadi alasan di balik tawamu. Aku ingin berdiri di sampingmu, dan bisa menatap kedua matamu. Aku bosan semua itu hanya khayalan. Aku ingin SEMUA ITU NYATA. Lagi-lagi itu hanya sebuah harapan kosong, dan tak berarti.
Aku hanya bisa melakukan yang sekarang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menunggu semampuku. Aku hanya bisa menangis sebanyak air mataku. Aku hanya bisa itu semua. I'm not perfect, because nobody perfect in this world.
Wednesday, July 31, 2013
Simfoni Hitam
Cinta itu tak harus berbalas kan? Cinta juga tak harus memiliki kan? Tanya itu terus terngiang di otakku jika teringat akan dirinya. Cinta itu kadang memang membuat seseorang berbuat irasional. Sepertiku, aku terus saja mengharapkannya, padahal tak secercah harapan tampak. Bodoh. Ya, aku memang bodoh berani berharap sesuatu yang tak mungkin aku gapai.
Terlalu berani. Sama saja menyiksa diri sendiri. Tapi, bukankah aku sudah jatuh, jatuh cinta kepadanya? Bukankah yang dinamakan jatuh itu sakit? Jadi, keoptimisan diatas sebuah hal yang pesimis, dengan kata lain berharap suatu harapam kosong, masuk ke dalam kontrak aku jatuh cinta. Bukan hanya aku, tentunya semua orang.
Hal bodoh yang aku lakukan lagi, aku terus memikirkannya. Aku terus merindukannya. Hal yang sia-sia. Karena dia tak mungkin membalasnya, meskipun dia mengetahuinya. Memimpikanku, merindukanku, dan menginginkanku ada di sampingnya adalah hal bodoh yang aku bayangkan. Rasanya hanya dia yang terus berputar di otakku. Bahkan ketika aku terbenam dalam alunan nada.
***
Tak bisakah kau
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untukmu
Seisi ruangan bercat putih itu bergema potongam lagu Simfoni Hitam yang aku nyanyikan dengan iringan piano kesayanganku.
Air mata tak absen mengalir di pipiku. Suaraku bergetar menyanyikannya. Otakku berputar, mengingat tentangnya, tentang dia, seseorang yang aku cinta, sayangnya tak pernah membalas rasa itu.
Aku akhirnya berhenti menyanyikannya. Tak kuat lagi. Hatiku perih. Hatiku rasanya sudah tersayat-sayat oleh bayanganmu yang seperti belati baru saja diasah.
Piano di depanku berhenti berdenting.
Aku memainkan lagu yang lain. Jariku kembali menari diatas tuts hitam putih piano di depanku.
Nada awal yang begitu familiar memasuki telingaku. Fur Elise. Lagu yang belum aku kuasai dengan sempurna. Entah mengapa hatiku membawa tanganku untuk memainkan lagu ini, lagu yang bercerita tentang cinta tak berbalas sama seperti arti lagu Simfoni Hitam milik Sherina.
Aku menikmati setiap alunan nada dari piano ini, meskipun ada beberapa nada yang salah. Air mataku menjadi semakin deras saja. Lagu ini memenuhi sudut-sudut ruangan.
Aku tak pernah bosan mendengarkan lagu ini. Entah mengapa. Dan setiap kali memainkannya air mata selalu mengalir di pipiku. Membuat sebuah sungai kecil yang begitu deras. Hatiku perihnya bukan main. Mengapa? Apalagi kalau bukan teringat akan dia yang bahkan menganggapku ada saja sepertinya tidak pernah? Ironis sekali kisahku ini. Sebuah dongeng cinta tak berbalas.
Nada terakhir sudah aku tekan. Air mataku masih mengalir. Aku lalu berputar dan membelakangi piano. Mengusap bekas aliran air mata. Aku menenangkan diriku sendiri. Berusaha menjernihkan pikiranku, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku selalu bertanya setiap mengingat perasaanku kepadanya. Adakah aku di hatinya? Pernahkah dia merindukanku? Apa aku pernah sekali saja muncul di hatinya? Pernahkah ia terjaga karena bayanganku? Pernahkah ia melakukan yang aku lakukan dan merasakan yang aku rasakan pada dirinya? Untuk yang terakhir mungkin ya, hanya saja bukan kepadaku. Tapi kepada perempuan yang lain yang entah siapa.
Kadang aku merasa dunia tak adil, ketika aku mencintai orang lain yang bahkan aku tak tahu dia itu siapa. Dan, apakah aku akan siap jika nanti dia dan seseorang yg dicintainya akan menjadi sepasang kekasih? Apakah aku kuat menahan air mata? Apakah hatiku tak akan perih? Semoga saja ya, paling tidak aku dapat mengucapkan selamat dan bisa berpura-pura tersenyum di depan mereka.
***
Langkah kakiku bergaung di sepanjang koridor. Tentunya koridor masih sepi, sekarang masih terlalu pagi untuk berada di sekolah. Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang di koridor. Aku tidak begitu memperhatikan jalanku. Mana mungkin ada anak yang terburu-buru jika sepagi ini? Ah, tapi mungkin saja.
Brak.
Tiba-tiba saja aku menabrak sesuatu, oh mungkin seseorang. Aku terjatuh, dan segera saja bangun.
"Friska, lo gapapa?" Aku sedang sibuk membersihkan rokku yang terkena debu. Terdengar suara berat itu memanggil namaku.
"Gapa..." Ucapanku seketika terhenti ketika melihat siapa yang menabrakku. "Gue gapapa kok," Lanjutku menyelesaikan ucapanku yang terhenti tadi karena terkejut.
Angga. Dia yang menabrakku. Dia yang selalu ada di mimpiku. Dia yang membuatku terjaga di malam hari. Dan dia juga yang selalu berputar di otakku. Dia yang sering membuat air mataku tak hentinya menetes.
"Maaf, gue gak sengaja tadi. Gue lagi buru-buru." Ia berbicara denganku, tapi matanya malah berkeling. Setelah itu, dia pergi. Entah kemana. Aku tak perduli. Lagipula, memang aku ini siapa dia? Teman bukan, saudara bukan, apalagi pacar. Huh.
***
Brak.
Aku melemparkan tasku disebelah bangku Shania, sahabatku. Lima menit lagi bel masuk berbunyi.
"Hei! Darimana?" Tanya Shania.
"Kantin." Aku menjawab singkat.
"Kok bete gitu?" Selidik Shania karena melihatku yang masuk ke kelas terlalu siang dan tentu saja aku datang dengan muka kusut.
Aku lalu menceritakan sesuatu itu yang mengganjal di hatiku dengan panjang lebar. Shania mendengarkanku dengan penuh perhatian. Tepat setelah aku diam, hanya selisih beberapa detik, bel masuk yang memekakkan telinga berbunyi. Apalagi kelasku berada sangat dekat dengan pengeras suara menyebalkan itu.
***
Masih saja ucapan Shania terngiang di telingaku. Otakku masih tak percaya dengan hal itu. Hatiku perih. Aku benar-benar tak bisa mempercayai itu. Yang aku takutkan terjadi. Dia memiliki seorang kekasih. Tapi, aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapa. Untuk cemburu saja rasanya tak berhak.
Siapa sih aku ini? Aku, Friska, hanya gadis yang diam-diam mengaguminya. Jadi, aku tak punya hak melarangnya melakukan ini itu. Beruntung, gadis itu. Ia bisa selalu menemaninya, menikmati senyumnya, menjadi salah satu sebab senyumnya, muncul di mimpinya, yang akan diberinya coklat ketika hari Valentine tiba, dan tentulah dia seorang yang menempati seluruh relung hati Angga.
***
Piano di depanku masih tertutup. Aku belum mengganti baju sekolahku. Aku belum sempat berjumpa dengan kasurku, aku langsung saja kemari. Berusaha menenangkan hatiku. Musik. Hal yabg dapat membuat hatiku tenang kembali. Aku yakin, hanya piano di depanku ini yang mau mengertiku. Ia yang paling mengerti apa yang aku rasakan. Hanya ruangan ini yang menerimaku sepenuh hati, memberiku kebahagiaan tersendiri.
Aku mulai membuka piano di depanku lalu meletakkan tanganku di atas tuts berwarna hitam dan putih itu. Aku mulai memainkan lagu Simfoni Hitam, aku hanya memainkan instrumentalnya. Aku tak ingin bernyanyi. Hanya ingin bermain dengan alat musik ini. Dasar bodoh, mengapa aku selalu saja memainkan lagu ini dan menyakiti perasaanku sendiri? Bodoh, bodoh, bodoh!
Dengan lagu ini rasanya semua sudah jelas. Tak perlu aku mengatakan hal lain. Sudah jelas di lagu itu, bagaimana perasaanku. Betapa hancurnya. Sakit, ketika mengetahui orang yang kau suka sudah menjalin suatu hubungan dengan orang lain.
Baru saja sampai di bagian reffrain lagu, air mataku sudah mengalir deras dipipiku. Dadaku sesak. Bayangnya terus berputar di otakku. Mampukah aku melupakan bayangnya? Mampukah aku menghapusnya.dari mimpiku? Hei, ayolah. Hidup itu mesti maju, tak bisa hanya diam disitu terus. Terjebak di masa lalu.
Ini bukan masalah tak bisa berjalan, tapi rasa ini terlalu sakit. Seakan memakan hatiku. Luka di hatiku ternganga lebar terus mengucurkan darah segar. Bodohnya lagi, itu luka karena aku sendiri. Luka karena aku tak pernah berani menyatakan perasaanku ini. Luka karena aku memendamnya sendiri.
Tak ada yang bisa di salahkan, dan aku benci itu. Menyalahkan diri, percuma saja rasanya.
***
"Fris? Shania udah punya pacar ya?" Tanya Sendy tiba-tiba ketika aku sedang duduk sendiri sambil menyalin Tugas Fisika milik Shania. Enth Shania dimana, mungkin ia ke kantin.
"Hah? Masa' sih?" Aku masih belun percaya. "Kok dia gak cerita?"
"Iya, seriusan deh. Tadi dia jalan bareng sama Angga di kantin," Ucap Sendy sambil duduk di sebelahku.
Deg.
Hatiku sakit. Perih. Mataku panas, ingin rasanya air mataku tumpah. Beginikah rasanya ditusuk dari belakang oleh sahabat sendiri? Beginikah rasanya dikhianati sahabat sendiri? Ternyata aku salah mempercayai seseorang. Orang yang selama ini
"Hei!" Sendy melambaikan tangannya di depan mukaku. "Kok diem sih?"
"Eh...iya. Em...ntar gue tanyain, deh," Jawabku dengan susah payah sambil menahan air mata. "Mungkin dia belum sempat cerita sama gue," Aku tersenyum kepada Sendy dengan terpaksa. Sendy lalu meninggalkanku sendiri yang tengah menatap kosong buku tugasku.
Ingin sekali rasanya saat ini aku menangis dan meraung. Tapi apa daya? Sekarang aku di kelas, bukan di ruang musikku. Disini tak ada yang bisa mendengar ceritaku. Tak ada piano. Aku hanya bisa memendamnya sendiri saat ini.
Aku lalu kembali sibuk ke Tugas Fisika. Berusaha menyibukkan diri. Berusaha meghibur hatiku yang perih. Ternyata yang beberapa hari ia bicarakan dirinya sendiri. Ternyata sahabatku sendiri yang meremuk redamkan hatiku. Tak ku sangka. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Marah? Itu terlalu egois. Merelakannya? Sama saja itu membuat sebuah lubang lagi. Lalu?
Ttd
Refaans :))
Terlalu berani. Sama saja menyiksa diri sendiri. Tapi, bukankah aku sudah jatuh, jatuh cinta kepadanya? Bukankah yang dinamakan jatuh itu sakit? Jadi, keoptimisan diatas sebuah hal yang pesimis, dengan kata lain berharap suatu harapam kosong, masuk ke dalam kontrak aku jatuh cinta. Bukan hanya aku, tentunya semua orang.
Hal bodoh yang aku lakukan lagi, aku terus memikirkannya. Aku terus merindukannya. Hal yang sia-sia. Karena dia tak mungkin membalasnya, meskipun dia mengetahuinya. Memimpikanku, merindukanku, dan menginginkanku ada di sampingnya adalah hal bodoh yang aku bayangkan. Rasanya hanya dia yang terus berputar di otakku. Bahkan ketika aku terbenam dalam alunan nada.
***
Tak bisakah kau
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untukmu
Seisi ruangan bercat putih itu bergema potongam lagu Simfoni Hitam yang aku nyanyikan dengan iringan piano kesayanganku.
Air mata tak absen mengalir di pipiku. Suaraku bergetar menyanyikannya. Otakku berputar, mengingat tentangnya, tentang dia, seseorang yang aku cinta, sayangnya tak pernah membalas rasa itu.
Aku akhirnya berhenti menyanyikannya. Tak kuat lagi. Hatiku perih. Hatiku rasanya sudah tersayat-sayat oleh bayanganmu yang seperti belati baru saja diasah.
Piano di depanku berhenti berdenting.
Aku memainkan lagu yang lain. Jariku kembali menari diatas tuts hitam putih piano di depanku.
Nada awal yang begitu familiar memasuki telingaku. Fur Elise. Lagu yang belum aku kuasai dengan sempurna. Entah mengapa hatiku membawa tanganku untuk memainkan lagu ini, lagu yang bercerita tentang cinta tak berbalas sama seperti arti lagu Simfoni Hitam milik Sherina.
Aku menikmati setiap alunan nada dari piano ini, meskipun ada beberapa nada yang salah. Air mataku menjadi semakin deras saja. Lagu ini memenuhi sudut-sudut ruangan.
Aku tak pernah bosan mendengarkan lagu ini. Entah mengapa. Dan setiap kali memainkannya air mata selalu mengalir di pipiku. Membuat sebuah sungai kecil yang begitu deras. Hatiku perihnya bukan main. Mengapa? Apalagi kalau bukan teringat akan dia yang bahkan menganggapku ada saja sepertinya tidak pernah? Ironis sekali kisahku ini. Sebuah dongeng cinta tak berbalas.
Nada terakhir sudah aku tekan. Air mataku masih mengalir. Aku lalu berputar dan membelakangi piano. Mengusap bekas aliran air mata. Aku menenangkan diriku sendiri. Berusaha menjernihkan pikiranku, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku selalu bertanya setiap mengingat perasaanku kepadanya. Adakah aku di hatinya? Pernahkah dia merindukanku? Apa aku pernah sekali saja muncul di hatinya? Pernahkah ia terjaga karena bayanganku? Pernahkah ia melakukan yang aku lakukan dan merasakan yang aku rasakan pada dirinya? Untuk yang terakhir mungkin ya, hanya saja bukan kepadaku. Tapi kepada perempuan yang lain yang entah siapa.
Kadang aku merasa dunia tak adil, ketika aku mencintai orang lain yang bahkan aku tak tahu dia itu siapa. Dan, apakah aku akan siap jika nanti dia dan seseorang yg dicintainya akan menjadi sepasang kekasih? Apakah aku kuat menahan air mata? Apakah hatiku tak akan perih? Semoga saja ya, paling tidak aku dapat mengucapkan selamat dan bisa berpura-pura tersenyum di depan mereka.
***
Langkah kakiku bergaung di sepanjang koridor. Tentunya koridor masih sepi, sekarang masih terlalu pagi untuk berada di sekolah. Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang di koridor. Aku tidak begitu memperhatikan jalanku. Mana mungkin ada anak yang terburu-buru jika sepagi ini? Ah, tapi mungkin saja.
Brak.
Tiba-tiba saja aku menabrak sesuatu, oh mungkin seseorang. Aku terjatuh, dan segera saja bangun.
"Friska, lo gapapa?" Aku sedang sibuk membersihkan rokku yang terkena debu. Terdengar suara berat itu memanggil namaku.
"Gapa..." Ucapanku seketika terhenti ketika melihat siapa yang menabrakku. "Gue gapapa kok," Lanjutku menyelesaikan ucapanku yang terhenti tadi karena terkejut.
Angga. Dia yang menabrakku. Dia yang selalu ada di mimpiku. Dia yang membuatku terjaga di malam hari. Dan dia juga yang selalu berputar di otakku. Dia yang sering membuat air mataku tak hentinya menetes.
"Maaf, gue gak sengaja tadi. Gue lagi buru-buru." Ia berbicara denganku, tapi matanya malah berkeling. Setelah itu, dia pergi. Entah kemana. Aku tak perduli. Lagipula, memang aku ini siapa dia? Teman bukan, saudara bukan, apalagi pacar. Huh.
***
Brak.
Aku melemparkan tasku disebelah bangku Shania, sahabatku. Lima menit lagi bel masuk berbunyi.
"Hei! Darimana?" Tanya Shania.
"Kantin." Aku menjawab singkat.
"Kok bete gitu?" Selidik Shania karena melihatku yang masuk ke kelas terlalu siang dan tentu saja aku datang dengan muka kusut.
Aku lalu menceritakan sesuatu itu yang mengganjal di hatiku dengan panjang lebar. Shania mendengarkanku dengan penuh perhatian. Tepat setelah aku diam, hanya selisih beberapa detik, bel masuk yang memekakkan telinga berbunyi. Apalagi kelasku berada sangat dekat dengan pengeras suara menyebalkan itu.
***
Masih saja ucapan Shania terngiang di telingaku. Otakku masih tak percaya dengan hal itu. Hatiku perih. Aku benar-benar tak bisa mempercayai itu. Yang aku takutkan terjadi. Dia memiliki seorang kekasih. Tapi, aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapa. Untuk cemburu saja rasanya tak berhak.
Siapa sih aku ini? Aku, Friska, hanya gadis yang diam-diam mengaguminya. Jadi, aku tak punya hak melarangnya melakukan ini itu. Beruntung, gadis itu. Ia bisa selalu menemaninya, menikmati senyumnya, menjadi salah satu sebab senyumnya, muncul di mimpinya, yang akan diberinya coklat ketika hari Valentine tiba, dan tentulah dia seorang yang menempati seluruh relung hati Angga.
***
Piano di depanku masih tertutup. Aku belum mengganti baju sekolahku. Aku belum sempat berjumpa dengan kasurku, aku langsung saja kemari. Berusaha menenangkan hatiku. Musik. Hal yabg dapat membuat hatiku tenang kembali. Aku yakin, hanya piano di depanku ini yang mau mengertiku. Ia yang paling mengerti apa yang aku rasakan. Hanya ruangan ini yang menerimaku sepenuh hati, memberiku kebahagiaan tersendiri.
Aku mulai membuka piano di depanku lalu meletakkan tanganku di atas tuts berwarna hitam dan putih itu. Aku mulai memainkan lagu Simfoni Hitam, aku hanya memainkan instrumentalnya. Aku tak ingin bernyanyi. Hanya ingin bermain dengan alat musik ini. Dasar bodoh, mengapa aku selalu saja memainkan lagu ini dan menyakiti perasaanku sendiri? Bodoh, bodoh, bodoh!
Dengan lagu ini rasanya semua sudah jelas. Tak perlu aku mengatakan hal lain. Sudah jelas di lagu itu, bagaimana perasaanku. Betapa hancurnya. Sakit, ketika mengetahui orang yang kau suka sudah menjalin suatu hubungan dengan orang lain.
Baru saja sampai di bagian reffrain lagu, air mataku sudah mengalir deras dipipiku. Dadaku sesak. Bayangnya terus berputar di otakku. Mampukah aku melupakan bayangnya? Mampukah aku menghapusnya.dari mimpiku? Hei, ayolah. Hidup itu mesti maju, tak bisa hanya diam disitu terus. Terjebak di masa lalu.
Ini bukan masalah tak bisa berjalan, tapi rasa ini terlalu sakit. Seakan memakan hatiku. Luka di hatiku ternganga lebar terus mengucurkan darah segar. Bodohnya lagi, itu luka karena aku sendiri. Luka karena aku tak pernah berani menyatakan perasaanku ini. Luka karena aku memendamnya sendiri.
Tak ada yang bisa di salahkan, dan aku benci itu. Menyalahkan diri, percuma saja rasanya.
***
"Fris? Shania udah punya pacar ya?" Tanya Sendy tiba-tiba ketika aku sedang duduk sendiri sambil menyalin Tugas Fisika milik Shania. Enth Shania dimana, mungkin ia ke kantin.
"Hah? Masa' sih?" Aku masih belun percaya. "Kok dia gak cerita?"
"Iya, seriusan deh. Tadi dia jalan bareng sama Angga di kantin," Ucap Sendy sambil duduk di sebelahku.
Deg.
Hatiku sakit. Perih. Mataku panas, ingin rasanya air mataku tumpah. Beginikah rasanya ditusuk dari belakang oleh sahabat sendiri? Beginikah rasanya dikhianati sahabat sendiri? Ternyata aku salah mempercayai seseorang. Orang yang selama ini
"Eh...iya. Em...ntar gue tanyain, deh," Jawabku dengan susah payah sambil menahan air mata. "Mungkin dia belum sempat cerita sama gue," Aku tersenyum kepada Sendy dengan terpaksa. Sendy lalu meninggalkanku sendiri yang tengah menatap kosong buku tugasku.
Ingin sekali rasanya saat ini aku menangis dan meraung. Tapi apa daya? Sekarang aku di kelas, bukan di ruang musikku. Disini tak ada yang bisa mendengar ceritaku. Tak ada piano. Aku hanya bisa memendamnya sendiri saat ini.
Aku lalu kembali sibuk ke Tugas Fisika. Berusaha menyibukkan diri. Berusaha meghibur hatiku yang perih. Ternyata yang beberapa hari ia bicarakan dirinya sendiri. Ternyata sahabatku sendiri yang meremuk redamkan hatiku. Tak ku sangka. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Marah? Itu terlalu egois. Merelakannya? Sama saja itu membuat sebuah lubang lagi. Lalu?
Ttd
Refaans :))
Friday, April 26, 2013
Hujan
Hujan tak ada habisnya turun. Membuat setiap makhluk enggan untuk keluar. Sedangkan, orang-orang yang berada di luar rumah harus berdiam ditempat teduh, menunggu hujan reda. Titik-titik air menghiasi jendela kelasku. Jam yang berdetak, suara Pak Ahmad yang sedang menjelaskan materi sejarah, atau biasa kusebut ceramah, yang tak kunjung usai, dan suara hujan menjadi musik. Musik yang aneh, setidaknya hanya pada saat tertentu.
Aku hanya duduk di bangkuku sambil bertopang dagu. Aku memperhatikan hujan yang menari-nari di luar sana, dan sesekali melihat ke Pak Ahmad. Membosankan. Jam baru menunjukan pukul setengah tiga. Aku masih harus mengikuti pelajaran setengah jam lagi. Setengah jam. Rasanya seperti setengah hari.
Aku ingin segera pulang, duduk di sofa bertemankan kopi hangat, selimut, dan tentunya juga novel. Tapi aku harus bersabar. Aku harus menunggu bel itu berbunyi. Suara yang membebaskanku dari kebosanan yang tidak berujung ini. Sayang, bel itu masih lama. Tampaknya aku masih harus terus bersabar.
Aku menatap hujan di luar. Belum reda. Tiba-tiba bel pulang sekolah berdentang. Aku rasa lebih cepat dari yang aku bayangkan, mungkin karena aku memperhatikan hujan. Bukan Pak Ahmad.
Kami berkemas-kemas lalu berdoa. Setelah selesai, kami keluar sambil menyalami Pak Ahmad. Diluar hujan masih saja lebat, sedangkan aku tidak membawa payung. Aku harus menunggu hujan reda baru bisa berjalan pulang. Rumahku hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah, jadi berjalan kaki saja cukup.
"Huh, mau sampai kapan nunggu kalau hujannya lebat banget gini?" Aku ngedumel pada diriku sendiri.
"Hey Ra, enggak bawa payung ya?" Sapa seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tinggi dariku. Denny. Dia sahabatku, sekaligus seseorang yang aku cintai.
"Eh, iya. Tadi ketinggalan. Gue nebeng ya, Den?" Ucapku sambil menunjukan deretan gigiku.
"Yaudah yuk, sekalian. Cepet, udah sore," Ia lalu menarik tanganku.
Kami berjalan beriringan, ditengah hujan yang lebat ini. Sedari tadi kami hanya diam membisu. Tak ada yang membuka percakapan. Hanya suara hujan dan kendaraan lalu lalang yang menabrak gendang telinga kami. Aku tak berani mengajaknya berbicara lebih dulu, ia nampaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Ra," Ia membuka pembicaraan.
"Hm..." Aku menjawabnya singkat.
"Gue pengen ngomong sesuatu sama lo," Terdengar suaranya mencurigakan. Aku rasa itu sesuatu yang penting.
"Apa? Bilang aja kali. Gue kan sahabat lo," Jawabku sambil menyunggingkan senyuman, senyum terpaksa. Getir, aku hanya menelan ludah setelah mengucapkan itu. Sahabat. Padahal sebenarnya aku mencintai dia.
"Lo selama ini cuma anggep gue sahabat lo?" Tanyanya membuatku kaget setengah mati.
"I..ya," Jawabku dengan terbata. Kembali aku menelam ludah. Kali ini pahit, pahit karena aku harus berbohong tentang perasaan ini. Aku sudah membohongi diriku sendiri dan juga dirinya.
"Oh," Jawabnya pendek. Mukanya berubah menjadi lesu. Matanya menyorotkan kekecewaan. Mengapa dia sebenarnya?
"Emang kenapa?" Aku bertanya untuk mengurangi rasa penasaranku.
"Gapapa kok," Jawabnya sambil menyunggingkan senyum yang sepertinya dipaksakan. Rasa penasaran semakin membuncah dalam benakku.
Itu ucapan terakhir darinya. Aku tak melanjutkan pembicaraan, meskipun aku masih penasaran. Kami hanya berjalan bersama tanpa sebuah pembicaraan. Aku sibuk dengan jalanan, sedangkan dia sibuk seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Mungkinkan ia sebenarnya memiliki rasa yang sama dengan aku? Sebaiknya aku buang saja harapan itu sebelum akhirnya aku sakit karena harapan itu.
Tak terasa sudah sampai di depan rumahku. Kami berhenti.
"Thanks, Den. Udah nebengin gue," Ucapku sambil menyunggingkan senyum.
"Kembali, Ra," Ucapnya. Setelah itu, aku masuk sedangkan ia melanjutkan berjalan ke rumahnya yang kurang lebih berjarak 500 meter dari rumahku.
Sudah seminggu sejak kejadian hujan itu. Ia terlihat aneh. Ia seperti menghindariku. Saat bertemu, ia hanya tersenyum dan memanggilku. Tak lebih. Ia tak mengajakku makan bersamanya di kantin atau hanya sekedar bercanda. Dia berubah. Sakit, ketika seseorang yang aku sayang justru menjauhiku.
Sore ini hujan lagi. Menyebalkan. Hujan seenaknya saja menari dan bermain musik. Kali ini aku membawa payung. Syukurlah. Ketika mataku mengerling, di seberang sana tampak sosoknya. Tinggi, berambut cepak, dan menggendong ransel hitam. Aku segera saja menghampirinya.
"Den, enggak bawa payung ya?" Aku berbicara setengah berteriak saking derasnya hujan.
"Iya, gue lupa," Jawabnya juga setengah berteriak.
"Yuk, bareng gue aja. Gantian, kan kemarin gue juga nebeng lo," Ucapku sambil menyunggingkan senyum.
Payungku diraihnya. Kami berjalan beriringan.
"Denny," Aku memanggilnya.
"Iya, Ara?" Ia menoleh ke aku.
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini ngehindari gue?" Aku tanya langsung ke titik permasalahan tanpa basa basi.
"Menurut lo?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sikapnya tiba-tiba menjadi dingin. Tubuhnya menjadi lebih tegap, seperti siap untuk berperang.
"Gue kehilangan lo, Denny! Gue enggak betah lo hindari terus gini! Gue gak betah di cuekin sama sahabat gue sendiri!" Aku mengucapkan itu setengah berteriak.Air mataku ikut keluar bersama ucapan-ucapan tadi.
"Ara, lo selama ini sadar gak?" Tanyanya sambil menghapus air mataku. Payungku ia jatuhkan. Air hujan membasahi seragam sekolah kami. "Lo selama ini sadar gak gue sayang sama lo?" Perkataannya itu membuat jantungku berdetak semakin kencang, tak beraturan. Sesuatu yang selama ini aku bayangkan. Dia memiliki rasa yang sama denganku.
"Dan lo sadar gue juga sayang sama lo?" Tanyaku kembali, air mata juga menyertainya.
"Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Apa lo gak peka sama perhatian yang selama ini gue kasih?" Kedua tangannya berada di bahuku. Ia sedikit mencengkeramnya.
"Nah, selama ini lo peka sama gue?" Jawabku. Mataku menatap matanya lekat. Di matanya tidak ada kebohongan. Tulus, itu yang aku temukan.
"Jadi, perkataan lo minggu lalu itu bohong kan?" Ia seperti memburuku. Menginterogasiku. Mencecarku dengan berbagai pertanyaan.
"Iya. Gue bohong. Gue enggak mau ngerusak persahabatan kita," Jawabku. Air hujan dan air mata di wajahku menyatu.
"Lo salah, sebenernya kemaren gue pengen bilang semua ini," Ucapnya masih mencengkeram bahuku. "Oke, gausah pikirin yang kemarin. Yang lalu biarlah berlalu," Sambungnya.
Ia menarik nafas. "Ara, lo mau jadi pacar gue?" Sesuatu yang selama ini tak pernah kuduga. Sesuatu yang aku pikir hanya mimpiku. Ini kenyataan. Ini bukan mimpiku.
"Gausah lo tanya, Den. Gue mau. Mau jadi pacar sekaligus sahabat lo," Air mataku berhenti mengalir. Sekarang, senyum ini menggantikan tangisku. Aku harap, aku bisa lebih banyak tersenyum setelah dengannya, Denny, sahabatku.
By :
@refaans :))
Aku hanya duduk di bangkuku sambil bertopang dagu. Aku memperhatikan hujan yang menari-nari di luar sana, dan sesekali melihat ke Pak Ahmad. Membosankan. Jam baru menunjukan pukul setengah tiga. Aku masih harus mengikuti pelajaran setengah jam lagi. Setengah jam. Rasanya seperti setengah hari.
Aku ingin segera pulang, duduk di sofa bertemankan kopi hangat, selimut, dan tentunya juga novel. Tapi aku harus bersabar. Aku harus menunggu bel itu berbunyi. Suara yang membebaskanku dari kebosanan yang tidak berujung ini. Sayang, bel itu masih lama. Tampaknya aku masih harus terus bersabar.
Aku menatap hujan di luar. Belum reda. Tiba-tiba bel pulang sekolah berdentang. Aku rasa lebih cepat dari yang aku bayangkan, mungkin karena aku memperhatikan hujan. Bukan Pak Ahmad.
Kami berkemas-kemas lalu berdoa. Setelah selesai, kami keluar sambil menyalami Pak Ahmad. Diluar hujan masih saja lebat, sedangkan aku tidak membawa payung. Aku harus menunggu hujan reda baru bisa berjalan pulang. Rumahku hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah, jadi berjalan kaki saja cukup.
"Huh, mau sampai kapan nunggu kalau hujannya lebat banget gini?" Aku ngedumel pada diriku sendiri.
"Hey Ra, enggak bawa payung ya?" Sapa seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tinggi dariku. Denny. Dia sahabatku, sekaligus seseorang yang aku cintai.
"Eh, iya. Tadi ketinggalan. Gue nebeng ya, Den?" Ucapku sambil menunjukan deretan gigiku.
"Yaudah yuk, sekalian. Cepet, udah sore," Ia lalu menarik tanganku.
Kami berjalan beriringan, ditengah hujan yang lebat ini. Sedari tadi kami hanya diam membisu. Tak ada yang membuka percakapan. Hanya suara hujan dan kendaraan lalu lalang yang menabrak gendang telinga kami. Aku tak berani mengajaknya berbicara lebih dulu, ia nampaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Ra," Ia membuka pembicaraan.
"Hm..." Aku menjawabnya singkat.
"Gue pengen ngomong sesuatu sama lo," Terdengar suaranya mencurigakan. Aku rasa itu sesuatu yang penting.
"Apa? Bilang aja kali. Gue kan sahabat lo," Jawabku sambil menyunggingkan senyuman, senyum terpaksa. Getir, aku hanya menelan ludah setelah mengucapkan itu. Sahabat. Padahal sebenarnya aku mencintai dia.
"Lo selama ini cuma anggep gue sahabat lo?" Tanyanya membuatku kaget setengah mati.
"I..ya," Jawabku dengan terbata. Kembali aku menelam ludah. Kali ini pahit, pahit karena aku harus berbohong tentang perasaan ini. Aku sudah membohongi diriku sendiri dan juga dirinya.
"Oh," Jawabnya pendek. Mukanya berubah menjadi lesu. Matanya menyorotkan kekecewaan. Mengapa dia sebenarnya?
"Emang kenapa?" Aku bertanya untuk mengurangi rasa penasaranku.
"Gapapa kok," Jawabnya sambil menyunggingkan senyum yang sepertinya dipaksakan. Rasa penasaran semakin membuncah dalam benakku.
Itu ucapan terakhir darinya. Aku tak melanjutkan pembicaraan, meskipun aku masih penasaran. Kami hanya berjalan bersama tanpa sebuah pembicaraan. Aku sibuk dengan jalanan, sedangkan dia sibuk seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Mungkinkan ia sebenarnya memiliki rasa yang sama dengan aku? Sebaiknya aku buang saja harapan itu sebelum akhirnya aku sakit karena harapan itu.
Tak terasa sudah sampai di depan rumahku. Kami berhenti.
"Thanks, Den. Udah nebengin gue," Ucapku sambil menyunggingkan senyum.
"Kembali, Ra," Ucapnya. Setelah itu, aku masuk sedangkan ia melanjutkan berjalan ke rumahnya yang kurang lebih berjarak 500 meter dari rumahku.
Sudah seminggu sejak kejadian hujan itu. Ia terlihat aneh. Ia seperti menghindariku. Saat bertemu, ia hanya tersenyum dan memanggilku. Tak lebih. Ia tak mengajakku makan bersamanya di kantin atau hanya sekedar bercanda. Dia berubah. Sakit, ketika seseorang yang aku sayang justru menjauhiku.
Sore ini hujan lagi. Menyebalkan. Hujan seenaknya saja menari dan bermain musik. Kali ini aku membawa payung. Syukurlah. Ketika mataku mengerling, di seberang sana tampak sosoknya. Tinggi, berambut cepak, dan menggendong ransel hitam. Aku segera saja menghampirinya.
"Den, enggak bawa payung ya?" Aku berbicara setengah berteriak saking derasnya hujan.
"Iya, gue lupa," Jawabnya juga setengah berteriak.
"Yuk, bareng gue aja. Gantian, kan kemarin gue juga nebeng lo," Ucapku sambil menyunggingkan senyum.
Payungku diraihnya. Kami berjalan beriringan.
"Denny," Aku memanggilnya.
"Iya, Ara?" Ia menoleh ke aku.
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini ngehindari gue?" Aku tanya langsung ke titik permasalahan tanpa basa basi.
"Menurut lo?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sikapnya tiba-tiba menjadi dingin. Tubuhnya menjadi lebih tegap, seperti siap untuk berperang.
"Gue kehilangan lo, Denny! Gue enggak betah lo hindari terus gini! Gue gak betah di cuekin sama sahabat gue sendiri!" Aku mengucapkan itu setengah berteriak.Air mataku ikut keluar bersama ucapan-ucapan tadi.
"Ara, lo selama ini sadar gak?" Tanyanya sambil menghapus air mataku. Payungku ia jatuhkan. Air hujan membasahi seragam sekolah kami. "Lo selama ini sadar gak gue sayang sama lo?" Perkataannya itu membuat jantungku berdetak semakin kencang, tak beraturan. Sesuatu yang selama ini aku bayangkan. Dia memiliki rasa yang sama denganku.
"Dan lo sadar gue juga sayang sama lo?" Tanyaku kembali, air mata juga menyertainya.
"Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Apa lo gak peka sama perhatian yang selama ini gue kasih?" Kedua tangannya berada di bahuku. Ia sedikit mencengkeramnya.
"Nah, selama ini lo peka sama gue?" Jawabku. Mataku menatap matanya lekat. Di matanya tidak ada kebohongan. Tulus, itu yang aku temukan.
"Jadi, perkataan lo minggu lalu itu bohong kan?" Ia seperti memburuku. Menginterogasiku. Mencecarku dengan berbagai pertanyaan.
"Iya. Gue bohong. Gue enggak mau ngerusak persahabatan kita," Jawabku. Air hujan dan air mata di wajahku menyatu.
"Lo salah, sebenernya kemaren gue pengen bilang semua ini," Ucapnya masih mencengkeram bahuku. "Oke, gausah pikirin yang kemarin. Yang lalu biarlah berlalu," Sambungnya.
Ia menarik nafas. "Ara, lo mau jadi pacar gue?" Sesuatu yang selama ini tak pernah kuduga. Sesuatu yang aku pikir hanya mimpiku. Ini kenyataan. Ini bukan mimpiku.
"Gausah lo tanya, Den. Gue mau. Mau jadi pacar sekaligus sahabat lo," Air mataku berhenti mengalir. Sekarang, senyum ini menggantikan tangisku. Aku harap, aku bisa lebih banyak tersenyum setelah dengannya, Denny, sahabatku.
By :
@refaans :))
Thursday, April 25, 2013
Cerita Kita
Aku masih ingat jelas ketika aku baru mengenalmu. Aku hanya mengenalmu lewat dunia maya, walaupun dalam wujud nyata aku bertemu denganmu setiap hari. Begitu berbeda sosokmu di dunia maya dan dunia nyata. Di dunia maya, kamu terkesan cerewet dan banyak tingkah. Di dunia nyata, kamu terkesan pendiam. Haha, sungguh, keduanya begitu bertolak belakang.
Perlahan-lahan aku mulai menyukaimu. Aku mulai menyayangimu. Kamu belum menyadari. Muncul harapan kamu juga mempunyai rasa yang sama. Tapi, harapanku pupus, ketika aku tahu kamu menyayangi orang lain. Bukan aku.
Kamu belum juga mengetahui rasa ini. Kamu belum berubah. Kamu tetap seperti dulu. Aku suka itu, kamu yang pendiam terlihat begitu cerewet ketika di dunia maya. Aku hanya beberapa kali mengobrol denganmu, suaramu masih terus terngiang ditelingaku. Senyumanmu juga masih melekat erat pada ingatanku.
Masih tergambar jelas, ketika kamu menyapaku. Lalu, kamu mengajakku mengobrol sepatah dua patah kata. Perbincangan yangg singkat, tapi itu kenangan indah untukku. Ah, seandainya waktu bisa diputar balikkan, aku akan terus mengulang saat-saat itu.
Waktu terus berlalu. Kamu mulai berubah. Yah, mungkin memang semuanya harus berubah. Kamu yang sekarang bukan yang aku kenal dulu. Kamu mulai menjauhiku. Mungkin kamu menyadari perasaanku ini. Semua berbeda dari yang aku harapkan. Aku berharap kamu bisa mengerti, tapi kamu malah semakin menjauhiku. Itu bukan membuatku bisa melupakanmu, tapi kamu menyakitiku.
Itu semua belum apa-apa. Jauh lebih sakit ketika aku tahu kamu menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Hatiku rasanya remuk. Tapi, sekali lagi aku menyayangimu. Bagaimanapun juga asal kau bahagia, aku ikut bahagia. Munafik kedengarannya. Dan itu memang benar. Aku bohong mengenai itu. Aku terus bertahan dalam sandiwara. Aku pura-pura merelakannya. Aku pura-pura tersenyum di depan orang-orang
Kapan sandiwara ini akan berakhir? Kapan aku tidak harus pura-pura tersenyum lagi di depan orang-orang? Mereka tak tahu yag sesungguhnya aku rasakan. Mereka hanya tahu, aku yang tegar dan selalu tersenyum. Bukan aku yang rapuh, seperti kenyataannya. Aku ingin menyudahi semuanya. Aku ingin menghentikan sandiwara ini. Aku ingin semua kembali seperti dulu. Ketika semua baik-baik saja. Aku ingin kamu yang dulu, ketika kamu masih merasa mengenalku. Saat kamu selalu bisa kuajak bicara meluapkan perasaanku.
Refaans :))
Pengagum Rahasia
Pengagum rahasia. Itu posisi yang sulit. Dimana aku menyayangimu tapi kamu tak pernah mengetahui itu, dan aku tak punya keberanian mengungkapkannya. Hah, jelas saja kau tak mengetahuinya. Menjadi pengagum rahasia hanya mampu memperhatikanmu dari jauh, menikmati senyumanmu yang indah itu dari kejauhan, tanpa bisa menjadi penyebabnya.
Menjadi seorang pengagum rahasia rasanya untuk cemburu saja aku tidak berhak. Aku hanya mamp menahan rasa sesak ketika melihatmu dengan kekasihmu. Dan lagi, aku bisa apa? Hanya menangis diam-diam, menahan rasa sesak di dada. Tapi, setidaknya aku bisa melihat senyummu itu.
Pengagum rahasia, ini jauh lebih baik daripada harus menjadi orang ketiga. Setidaknya aku tidak merusak hubunganmu dengannya, meski aku begitu menyayangimu. Ya walau sakit ketika aku melihat kamu bersama dengan kekasihmu, dan sekali lagi itu tak apa, asal tetap terlukis senyumanmu. Demi senyum itu, hatiku rasanya sudah mati rasa. Senyum itu bagai penawar rasa sesak tadi.
Aku juga manusia biasa, aku juga punya keinginan. Aku juga ingin seperti dia, aku iri dengannya. Aku ingin bisa disampingmu dan menggenggam erat tanganmu. Bukan hanya memandangmu dari kejauhan seperti ini. Aku ingin menjadi salah satu sebab senyumanmu itu, bukan hanya menikmatinya dari kejauhan. Aku ingin memiliki senyum itu, walau hanya sementara.
Hah, aku sudah lelah mengagumimu tanpa kau sadari. Tapi sekali lagi, aku bisa apa? Mengungkapkan saja rasanya tak ada keberanian. Dan lagi, permasalahannya pada keberanian. Aku sangat ingin kau membalas rasa ini, tapi aku tak berani mengungkapkan ini semua. Aku hanya mampu berharap, kamu akan mengerti semua ini suatu saat.
Aku pikir lebih baik begini. Aku tetap menjadi seorang penggemar rahasia, dan kamu tetap bahagia bersama kekasihmu. Aku tetap bisa melihat senyummu dan kamu bahagia bersama kekasihmu. Simbiosis mutualisme. Aku yakin, kamu pasti bahagia dengannya. Kebahagiaanmu menjadi bagian dalam setiap doa yang kupanjatkan.
Menjadi seorang pengagum rahasia rasanya untuk cemburu saja aku tidak berhak. Aku hanya mamp menahan rasa sesak ketika melihatmu dengan kekasihmu. Dan lagi, aku bisa apa? Hanya menangis diam-diam, menahan rasa sesak di dada. Tapi, setidaknya aku bisa melihat senyummu itu.
Pengagum rahasia, ini jauh lebih baik daripada harus menjadi orang ketiga. Setidaknya aku tidak merusak hubunganmu dengannya, meski aku begitu menyayangimu. Ya walau sakit ketika aku melihat kamu bersama dengan kekasihmu, dan sekali lagi itu tak apa, asal tetap terlukis senyumanmu. Demi senyum itu, hatiku rasanya sudah mati rasa. Senyum itu bagai penawar rasa sesak tadi.
Aku juga manusia biasa, aku juga punya keinginan. Aku juga ingin seperti dia, aku iri dengannya. Aku ingin bisa disampingmu dan menggenggam erat tanganmu. Bukan hanya memandangmu dari kejauhan seperti ini. Aku ingin menjadi salah satu sebab senyumanmu itu, bukan hanya menikmatinya dari kejauhan. Aku ingin memiliki senyum itu, walau hanya sementara.
Hah, aku sudah lelah mengagumimu tanpa kau sadari. Tapi sekali lagi, aku bisa apa? Mengungkapkan saja rasanya tak ada keberanian. Dan lagi, permasalahannya pada keberanian. Aku sangat ingin kau membalas rasa ini, tapi aku tak berani mengungkapkan ini semua. Aku hanya mampu berharap, kamu akan mengerti semua ini suatu saat.
Aku pikir lebih baik begini. Aku tetap menjadi seorang penggemar rahasia, dan kamu tetap bahagia bersama kekasihmu. Aku tetap bisa melihat senyummu dan kamu bahagia bersama kekasihmu. Simbiosis mutualisme. Aku yakin, kamu pasti bahagia dengannya. Kebahagiaanmu menjadi bagian dalam setiap doa yang kupanjatkan.
Refaans :))
Subscribe to:
Comments (Atom)